Manifesto Pancasila Sakti Jenderal Gatot Nurmantyo

oleh -56.321 views
  • Memento Video G30S/PKI

Oleh Thowaf Zuharon

Betapa tolol jika ada yang protes dan marah, ketika Jenderal Gatot Nurmantyo memerintahkan seluruh prajuritnya untuk membuat nonton bareng film G30S/PKI! Ingat, Jenderal Gatot hanya memerintahkan anak buahnya. Tak ada perintah atau himbauan Jenderal Gatot untuk nonton film kepada rakyat Indonesia. Hanya kepada prajuritnya!

Jadi, ketika berbagai masyarakat ikut-ikutan membuat kegiatan nonton bareng film G30S/PKI, itu merupakan ruang diskursus yang lain. Itu hanya efek dari sebuah perintah manifestatif dari Jenderal Gatot kepada prajurit. Ketika gerakan Jenderal Gatot diikuti oleh masyarakat, berarti Jenderal Gatot memang mampu menjadi suri tauladan bagi masyarakat Indonesia. Apapun yang terjadi, mau dicerca atau disalahkan, Jenderal Gatot sudah berhasil meraih simpati dan empati sebagian besar masyarakat Indonesia yang mulai mengagumi dan mencintai Indonesia sebagai pemimpin. Ia sudah mendapat tempat di hati rakyat.

Anda tentu tahu, dalam teori sosiologi ada teori modeling. Teori seseorang yang meniru perilaku atau pemikiran orang lain yang dikagumi. Dalam konteks nonton bareng film G30S/PKI ini, Jenderal Gatot sudah berhasil menciptakan model untuk ditiru banyak orang. Ia sudah berhasil membuat arus pemikiran dan pendidikan bagi bangsa ini melalui film yang diproduksi pada masa orde baru.

Ketika ada yang mencerca gerakan Jenderal Gatot sebagai kepanjangan orde baru dan Pak Harto, maka pertanyaannya, kenapa masyarakat begitu spontan untuk menggelar nonton bareng juga? Jangan-jangan, ketika berbagai lapisan masyarakat ingin juga menonton film itu, masyarakat memang masih sangat merindukan berbagai model pemikiran dan kepemimpinan Pak Harto! Saya kira, Jenderal Gatot tidak peduli jika harus dicap sebagai antek orde baru.

Perintah seorang Panglima TNI kepada prajuritnya, sejauh itu baik dan konstitusional, apa salahnya, Bung? Ini hanya perintah untuk menonton film karya Arifin C Noor berjudul G30S/PKI. Tiba-tiba, setelah Panglima TNI menyuruh prajuritnya sendiri, ada yang sewot, ada yang kebakaran jenggot, ada yang mencerca dan menghina. Dalam dunia militer, seorang Panglima TNI mempunyai otoritas penuh untuk memberi perintah kegiatan kepada prajuritnya. Itu otoritas 1000% Jenderal Gatot kepada prajuritnya. Tak ada yang bisa mengintervensi sama sekali.

Lalu, ketika Presiden Jokowi justru ikut-ikutan nonton bareng film G30S/PKI, apakah mereka yang mencerca Nobar Film di Makorem Bogor, juga akan menghina dan menganggap Presiden Jokowi sebagai antek orde baru? Jika ada yang berpikir demikian, sebenarnya otaknya sudah terlalu picik dan harus dicurigai sebagai komunis antek PKI dan penerus Letkol Untung yang memimpin penculikan para Jenderal.

Yang menarik, Jenderal Gatot semakin tidak peduli atas opini masyarakat. Ia tak mau berpolemik. Ini adalah niatan tulusnya untuk meluruskan sejarah. Ia hanya ingin menunjukkan fakta yang terjadi saat itu. Karena menurut pengamatan Jenderal Gatot, masih banyak prajuritnya yang tidak tahu dengan kekejaman PKI pada 1965.

Jenderal Gatot hanya menaati wejangan dari Presiden Sukarno agar tidak melupakan sejarah. Ia hanya ingin mengingatkan kepada anak bangsa, jangan sampai peristiwa itu terulang. Karena menyakitkan bagi semua pihak. Dan korban kekejaman PKI sangat banyak sekali sejak Indonesia berdiri pada 1945. Sejak dari peristiwa tiga daerah, pemberontakan PKI Muso pada 1948, pengkhianatan PKI pada 1965, serta pemberontakan PKI di Blitar Selatan pada 1968.

Kebetulan, perintah Jenderal Gatot untuk nonton bareng film ini, momentumnya tidak lama setelah polemik atas seminar Pembela PKI 1965 di LBH Jakarta yang dibubarkan dan berujung ricuh. Apapun yang terjadi, sebagian besar masyarakat Indonesia angkat topi terhadap ketegasan Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang mewajibkan seluruh KODAM, KODIM, dan KORAMIL untuk melaksanakan nonton bareng film G30S/PKI besutan sutradara kondang Arifin C Noor.

Jenderal Gatot hanya berjuang untuk merawat ingatan atas kekejaman PKI. Apa yang dilakukan oleh Jenderal Gatot ini mengingatkan saya pada Milan Kundera, seorang novelis ternama dari Ceko. Kundera pernah bilang dalam novelnya The Book of Laugher and Forgetting, “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa!”, Kundera mengucapkan itu pada tahun 1971. Sebagaimana Soekarno juga menyatakan JASMERAH (Jangan Suka Melupakan Sejarah).

Apa salahnya merawat ingatan bangsa Indonesia atas bahaya dari kekejaman pengkhianatan PKI? Toh, semua negara besar di dunia juga merawat ingatan sejarah bangsanya melalui film. Pada kenyataannya, kekuatan film untuk menjadi alat pendidikan sekaligus propaganda memang tidak bisa dipungkiri lagi untuk mempengaruhi masyarakat.

Dalam sejarah film dunia, Rusia juga pernah menanamkan ideologi kepada rakyatnya melalui

Film berjudul Ivan The Terrible Part I (Rusia). Diktatori Soviet, Joseph Stalin memberikan ijin kepada Eisenstein untuk membuat film ‘Ivan the Terrible’ untuk mempromosikan kekuatan Soviet yg penuh dengan berbagai macam kekayaan dan etnis yang beragam.

Stalin sangat puas karena film epic ini berhasil mempertunjukkan bagaimana Tsar Ivan berhasil mempersatukan Rusia dan momen ini sangat penting karena di masa itu Soviet sedang terlibat perang melawan Jerman di perang dunia ke II. Stalin berhasil menjadikan film itu bisa membangkitkan semangat rakyat Soviet.

Pemerintah Amerika juga membuat film berjudul Casablanca (Amerika), untuk menanamkan semangat nasionalisme di Amerika. Film itu dibuat sebelum Amerika memasuki perang dunia ke II. Walaupun posisi Amerika masih netral, tetapi film ini bersimpati besar dengan pihak sekutu karena mereka berada di pihak yang kalah atau lemah. Amerika juga membuat film The Birth of a Nation, yaitu sebuah Film tentang dua keluarga dari pihak berlawanan di jaman perang saudara Amerika, karena menceritakan momen penting sejarah Amerika.

Hitler pun membuat film The Triumph of The Will (Jerman), karena film bisa membawa pesan propaganda yang ampuh untuk mengikat emosi penonton dan berhasil. Bahkan, film bikinan Hitler malah dinobatkan oleh banyak kritikus film sebagai film propaganda terbaik sepanjang masa.

Terlepas dari berbagai polemik, sikap Panglima TNI atas perintah pemutaran film tersebut adalah cerminan sikap kesetiaan penuh Jenderal Gatot Nurmantyo atas Pancasila Sakti dan bentuk penghormatannya terhadap gugurnya Pahlawan Revolusi. Jenderal Gatot tanpa ragu menyatakan perang terhadap ideologi komunisme dan menolak seluruh anasir gerakan sebagian oknum yang melakukan pembelaan bahwa PKI tidak bersalah dalam G30S/PKI.

Bagi saya, gerakan nonton bareng atas film G30S/PKI yang dicanangkan oleh Jenderal Gatot adalah sebuah Manifesto (pernyataan terbuka tentang tujuan dan pandangan seseorang atau suatu kelompok) Pancasila Sakti yang sangat efektif dalam diskursus penguatan Pancasila kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya kepada generasi muda. Meskipun Jenderal Gatot hanya memerintahkan seluruh prajuritnya menonton film itu, tapi efek domino atas gerakan ini sangat luar biasa. Semua menjadi kelihatan, mana masyarakat yang membela PKI, mana yang berjiwa Pancasila. Tak ayal, kelompok yang merasa jengah dengan sikap maupun langkah Jenderal Gatot atas nonton bareng, langsung dituding oleh masyarakat sebagai golongan pembela PKI.

Manifesto September dari Jenderal Gatot ini juga membuat seluruh masyarakat beramai-ramai untuk mengadakan nonton bareng film G30S/PKI. Banyak sekali masjid yang juga mengadakan nonton bareng. Para Ketua RT juga banyak yang bertekad mengadakan nonton bareng. Banyak sekali ormas Islam yang mengadakan nonton bareng bersama Koramil dan Kodim setempat. Banyak sekali Pesantren yang merayakan nonton bareng dengan mengumpulkan ribuan santrinya. Film G30S/PKI yang sempat berhenti tayang lebih dari satu dasawarsa itu, sekarang diputar kembali di beberapa stasiun televisi. Banyak sekali anak-anak muda belasan tahun yang menjadi penasaran dan menoton film G30S/PKI di Youtube serta berbagai media sosial lain.

Dengan membuat gerakan nonton bareng, Jenderal Gatot tidak perlu berupaya membuat penyuluhan ke seluruh wilayah Indonesia atas kekejaman dan pengkhianatan PKI pada G30S/PKI 1965. Nonton Film lebih efektif daripada penyelenggaraan diskusi. Karena, tidak semua orang tidak suka penyuluhan dan diskusi. Lebih banyak orang menyukai dongeng dan pertunjukan daripada penyuluhan, diskusi, dan membaca buku. Apalagi, sebagian besar masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat literasi, melainkan masyarakat menonton. Sejak dahulu kala, masyarakat Indonesia lebih suka menonton wayang daripada harus membaca Kitab Mahabharata , Ramayana, maupun Bhagawadgita.

Artinya, di berbagai zaman, media kebudayaan yang bisa ditonton, jauh lebih efektif sebagai sarana pendidikan dan perubahan pola pikir masyarakat daripada harus melakukan penyuluhan di berbagai kelas. Sebagaimana efektifnya peran studio film Hollywood di Amerika, Bollywood di India, serta berbagai sentra produksi film dunia yang dijadikan alat efektif dalam mendidik dan memberikan penguatan ideologi masyarakat. Kesadaran atas pentingnya film sebagai sarana pendidikan ini, sangat disadari dalam benak Gatot Nurmantyo. Harus kita akui, dengan strategi pemutaran film G30S/PKI ini, Jenderal Gatot adalah komunikator yang ulung dan seorang Guru Bangsa yang cukup cerdas dalam mematahkan anasir yang membahayakan Bangsa Indonesia.

Manifesto nonton bareng G30S/PKI dari Jenderal Gatot adalah Memento (mengingat kembali) Video atas kekejaman dan kebiadaban PKI. Jenderal Gatot sangat cerdas dalam mengantisipasi merebaknya anak-anak muda yang mengagumi ideologi komunisme, cukup dengan gerakan nonton bareng film G30S/PKI. Seluruh anak-anak muda yang membela PKI, pikirannya tentu tersiksa dengan gerakan Jenderal Gatot. Jika menonton film G30S/PKI, para anak muda itu tentu akan berpikir ulang ketika mengagumi komunisme. Jenderal Gatot ingin mengajak kepada para pembela PKI dan seluruh anak-anak muda yang telah teracuni dengan komunisme, untuk kembali kepada Pancasila sebagai ideologi terbaik yang pernah dilahirkan para founding fathers bangsa Indonesia.

Tak ayal, Jenderal Gatot tentu menuai kecaman yang sangat kencang dari berbagai pihak yang membela PKI. Jenderal Gatot akan diejek dengan dalih, film itu adalah rekayasa kepentingan Soeharto. Jenderal Gatot tentu dituduh antek orde baru. Jenderal Gatot tentu akan menerima serangan dari para kelompok yang menginginkan Panglima TNI dicopot. Tapi, yang cukup menakjubkan, tanpa ada keraguan sama sekali, Jenderal Gatot dengan enteng menjawab di ILC dengan menyatakan, “Emang Gue Pikirin.”

Bagi Jenderal Gatot, mau dihina sejelek apapun, ia tidak peduli. Ia yakin, langkahnya ini demi menyelamatkan bangsa Indonesia dari cengkeraman ideologi yang mengancam Pancasila dan UUD 1945. Terbukti, film G30S/PKI menjadi sarana efektif untuk membuat counter hegemony atas upaya sekelompok pembela PKI yang berupaya meyakinkan bangsa Indonesia bahwa PKI tidak bersalah. Jenderal Gatot terbukti konsisten dan istiqomah menjunjung Pancasila dan Sapta Marga sebagai TNI.

Sejak menjadi Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo memang sudah terbukti berani menentang komunisme sejak menghadiri Simposium Anti-PKI di Balai Kartini, Jakarta, pada 2 Juni 2016. Dalam pidatonya, Jenderal Gatot menyebut masyarakat harus mewaspadai bangkitnya komunis. Menurut Jenderal Gatot, komunis akan muncul jika kesenjangan sosial dan kemiskinan terjadi. Tak hanya itu, mulai memudarnya budaya gotong royong, adalah awal mula hidupnya komunis.

Dalam simposium itu, Jenderal Gatot sangat yakin, komunis muncul dalam dua peristiwa yang serupa. Yakni pada 1948 ketika pemerintahan yang baru berusia tiga tahun mengalami krisis. Dan pada 1965, yang didahului dengan krisis politik. Biasanya, komunisme muncul saat sebuah bangsa sedang krisis. Seperti setan, diam-diam muncul.

Dalam simposium Balai Kartini, Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo sempat berpandangan, PKI tidak bisa bangkit karena sudah ada aturan yang melarangnya, yaitu ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Nomor 25 Tahun 1966. Namun, ketika ada yang mencoba ingin mencabut Tap MPRS XXV/1966 itu, ia memilih untuk menyadarkannya dengan memutar kembali film G30S/PKI.

Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo menegaskan, bahwa negara tidak punya rencana minta maaf kepada anggota maupun keluarga kader dan pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI). Dia sepenuhnya menjamin, tidak akan pemerintah minta maaf. Presiden Jokowi tidak akan pernah minta maaf kepada PKI.

Sementara, selama ini, upaya rekonsiliasi dan rehabilitasi para pelaku pemberontakan/eks PKI berbentuk Seminar Sejarah 1965 terus berlangsung. Mereka terus menggelorakan bahwa PKI tidak sepenuhnya bersalah pada G30S/PKI 1965. Kegiatan tersebut berkedok kegiatan ilmiah untuk memutarbalikkan fakta sejarah dan membangun opini atau pandangan negatif terhadap negara, pemerintah, dan bangsa Indonesia di mata dunia Internasional, dengan tuduhan, terjadi pelanggaran HAM berat bahkan Genocida yang terjadi di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada penumpasan PKI setelah mereka memberontak pada G30/S PKI 1965.

Ketika para pembela PKI di Seminar 65 LBH tersebut berlangsung, dengan maksud memutihkan kesalahan PKI, mereka berkeinginan meninjau kembali dan mencabut TAP NO XXV/MPRS/1966 dan Undang Undang No. 27 Tahun 1999 tentang perubahan KUHP yang berhubungan dengan kejahatan terhadap keamanan Negara. Itu disampaikan secara terang-terangan oleh Ketua Panitia bernama Boni Setiawan dan Dolorosa Sinaga. Jadi, jangan heran kalau banyak masyarakat menganggap bahwa Seminar 65 di LBH adalah bagian dari upaya menghidupkan PKI.

Selama masa reformasi berlangsung, eks Tapol/Napol PKI terus melakukan konsolidasi dengan membentuk Paguyuban Korban Orde Baru (PAKORBA), Yayasan penelitian Korban Peristiwa 1965 (YPKP 1965), Lembaga Perjuangan Rehabilitasi Korban Rezim Orde Baru (LPR KROB). Banyak yang mengkhawatirkan, mereka ingin membangkitkan lagi komunisme, tapi dengan topeng demokrasi, hak asasi, lingkungan hidup, tapi sebenarnya ingin mengubah fakta sejarah yang sudah final bagi bangsa Indonesia.

Para eks Tapol/Napol PKI yang terus mengadakan seminar pelurusan sejarah 1965 yang membela PKI, terus mendorong agar Presiden/ Pemerintah RI atas nama Negara meminta maaf kepada eks Tapol/Napol PKI. Padahal, fakta sejarah jelas menyatakan, PKI adalah pelaku pada pemberontakan 1948 dan 1965.

Bagi saya, gerakan Nonton Bareng film G30S/PKI ini adalah pelaksanaan dari semangat Pemerintahan Presiden Jokowi yang berkomitmen ‘menggebuk’ semua ormas yang berhaluan komunis. Presiden Joko Widodo telah menegaskan tidak bakal ragu menindak organisasi-organisasi tersebut. “Saya dilantik jadi Presiden yang saya pegang konstitusi, kehendak rakyat. Bukan yang lain-lain. Misalnya PKI nongol, gebuk saja. TAP MPR jelas soal larangan itu,” demikian kalimat Presiden Jokowi saat bersilaturahmi dengan sejumlah pemimpin redaksi media massa di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (17/5/2017).

Tak bisa dielak, Manifesto Jenderal Gatot Nurmantyo untuk Nonton Bareng film G30S/PKI, telah disambut dengan sangat luar biasa oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Jenderal Gatot telah mewakili rasa khawatir masyarakat akan bangkitnya Komunis Gaya Baru di era reformasi ini.

Banyak sekali masyarakat yang menyatakan siap berjuang dan berdiri dalam kepemimpinan Jenderal Gatot Nurmantyo. Bisa dikatakan, Jenderal Gatot Nurmantyo telah menjadi Aikon perjuangan penegakan Pancasila yang sangat anti terhadap komunisme. Tak bisa dibendung lagi, perasaan sebagian masyarakat Indonesia bersuara, Jenderal Gatot Nurmantyo adalah lambang sekaligus harapan baru bagi rakyat Indonesia yang menginginkan selalu tegaknya Pancasila dan UUD 1945.

Thowaf Zuharon adalah Penulis Buku Ayat-Ayat yang Disembelih