Mahasiswa Tolak Kunker Jokowi Ke Aceh

oleh -17.321 views

Banda Aceh (MBA)- Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kepemudaan dan paguyuban Se Aceh akan menggelar aksi menolak kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Aceh pada 21 Februari 2020.

Hal tersebut disampaikan Teuku Wariza Arismunandar dalam siaran persnya kepada media ini, Kamis malam 20 Februari 2020.

Aksi mahasiswa Aceh ini direncanakan berlangsung di Bundaran Simpang 5 (lima) Banda Aceh yang merupakan titik sentral dari ibu Kota Provinsi Aceh.

Ada pun yang menjadi tuntutan mahasiswa Aceh dalam menggelar aksi tolak jokowi adalah :

1. Menolak kedatangan Presiden Jokowi untuk hadir ke Aceh.
2. Tolak kenaikan BPJS dan tingkatkan fasilitas pelayanan kesehatan.
3. Tolak Omnibus Law dan RUU yang merugikan rakyat.
4. Ubah haluan ekonomi dan laksanakan Pasal 33 UUD 1945.
5. Tegakkan UU Pemerintah Aceh secara kaffah
6. Usut tuntas pelanggaran HAM berat yang terjadi di Aceh.

Selain isu Nasional yang disampaikan oleh mahasiswa Aceh, isu daerah juga menjadi point penting dalam kedatangan Jokowi ke Aceh. Karena Acehs ini masih jauh tertinggal dengan provinsi lainnya.

“Mulai dari infrastruktur, angka kemiskinan yang terus meningkat, pengangguran yang terus bertambah bahkan oknum anggota dewan yang membegal beasiswa bagi anak anak Aceh,” ungkap Warija.

Teuku Wariza menghimbau kepada seluruh aktivis Aceh untuk sama sama datang ke Simpang Lima Banda Aceh untuk menolak kedatangan Jokowi. Ia menilai, Pemerintah Pusat tidak serius dalam menjalankan amanah MOU Helsinky.

“Butir butir Undang Undang Pemerintah Aceh (UUPA) karena seringkali berbenturan dengan Undang Undang Pemerintah Pusat, sehingga daerah keistimewaan Aceh sedikit demi sedikit terus di hilangkan,” katanya.

Selain itu, Warija juga menjelaskan bahwa kedatangan jokowi ke Aceh dalam rangka Kenduri Kebangsaan di Yayasan Sukma Bangsa milik Surya Paloh pada 22 Februari 2020. Presiden Joko Widodo dikabarkan akan mendarat pada pukul 16:15 Wib di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang Aceh Besar.

“Terkait dengan rencana aksi tersebut, kami terus mendapatkan ancaman dan teror untuk tidak turun kejalan, namun saya dan kawan kawan mempunyai komitmen besar untuk hadir menyampaikan pendapat di muka umum, dan itu di lindungi oleh undang undang,” tegasnya.

“Sekali lagi, bagi kami Aceh adalah harga mati, dan kami tetap melakukan perlawanan atas rezim ini,” tutup Warija. (R)